Ada dua orang mahasiswa yang datang ke dekan dan melapor bahwa salah seorang dosen menghambat dia dalam proses pengajuan ujian skripsi sehingga mengakibatkannya tidak bisa lulus sesuai rencananya. Setelah diklarifikasi, ternyata tidak ada satu langkahpun yang dilakukan si dosen untuk menghambat. Bahkan bisa dikatakan dia mempermudah si mahasiswa.
Aduh betapa memalukannya hal tersebut, apalagi ketika lapor ke dekan dia bawa2 orangtua segala. Sebagai pendidik, aku lalu berpikir bagaimana sih sebenarnya orangtua mahasiswa ini mendidik anaknya. Apakah dalam pola pendidikannya, apapun keinginan si anak akan segera dituruti, benar ataupun salah keinginan itu. Apakah konsep sayang adalah dengan tidak pernah melarang?
Sebenarnya kalau ditarik ke belakang, ke saat dimana si anak masih kecil. Secara tidak sadar kadang orangtua mendidik anaknya menjadi orang yang selalu benar, dan mencari2 kesalahan diluar dirinya. Contoh sederhana adalah saat si anak jatuh karena terpelesat maka untuk menghibur anaknya supaya anak tidak nangis, si ortu akan bilang “wah lantainya nakal ya….bikin kamu jatuh, dah tak pukul lantainya…gakpapa ayo jalan lagi”. Secara tidak sadar terekam dalam benak si anak bahwa kalo dia jatuh maka lantainya yang salah, bukan dia yang kurang hati2. Bukannya diajari untuk mengevaluasi kesalahannya dan tidak mengulangi, malahan si anak diajarin untuk menyalahkan hal diluar dirinya.
Kalau hal semacam itu terjadi secara terus menerus, maka wajar kalau si anak nantinya tumbuh dengan karakter seperti itu, selalu mencari kambing hitam atas kegagalannya. Dan sayangnya pola pendidikan seperti ini banyak dan wajar terjadi di masyarakat. Jadi tidak heran kalau seringkali pejabat atau siapapun jika tersandung masalah bukannya menyadari dan mengundurkan diri tetapi malah mencari kambing hitam dan menyelamatkan diri sendiri. Ya…karena itu didikan sejak kecil yang secara tidak sadar terekam dalam pikiran.
Mendidik anak memang gak mudah ternyata…..


